Ditengah-tengah Bulan ke Empat

                            20-04-2013
Mencoba mengingat apa yang pernah aku tulis
Hampir dua puluh bulan yang lalu
Tentang apa yang ingin ku capai
Tentang apa yang ingin ku saksikan

Kini.....
Setelah swkian bulan berlalu
Malah lintas kota telah ku temui
Mulai dari Jakarta...
Magelang...
Cirebon...
Indramayu...
Dan kembali lagi ke Surabaya
Palembang...
Cilacap...
Bogor...
Malang...

Kini...
Entah kemana lagi kaki ini berpijak
Entah dimana lagi udara akan kuhirup

Hampir dua tahun berlalu
Akupun terjebak dalam duniaku
Lupa akan semua tulisanku
Sirna semua yang pernah aku buru
Benar benar telah terperosok aku
Dalam dunia yang aku tak tau

Jam dan detik telah sering nyawaku
Bulan dan hari telah sering berhembus di telinga ku
Namun aku masih sulit terbangun
Terbangun dari jurang yang aku gali
Tergali ditengah lumpur pekat
Dikelilingi pasir hisap yang melekat

Hingga kini masih aku mencoba
Walau kadang sering sedikit menyerah
Hampir pasrah pada semua
Pada semua yang membuat lelah
Dan gerah

Read More..

Akhirnya Sakit Juga

                            19-04-2013
Kemarin lusa...
Mendadak tubuh ini jatuh
Jatuh dari egonya yang terbusung
Membusung hingga lupa dengan kuasaNya

Perut ini mual...
Mual hingga isinya pun keluar
Bahkan air pun tak bisa masuk dirongganya
Dan udara pun tak cukup hinggap di porinya

Kemudian sekujur tubuh terasa penat
Bagai penat setelah menahan sejuta gedung
Bagai penat setelah menahan sejuta pukulan
Remuk....
Bercampur rasa yang hampir tak tertahan

12 jam berlalu
Kepala pening berpuing puing
Suhu tubuh pun meningkat perlahan
Lemas dan merasa tak mampu bergeming
Walau duduk terkulai sedikit menahan

Ternyata...
Aku hampir lupa
Terlalu tinggi percaya
Percaya pada diri sebesar semut kali
Lupa dari mana dapat semua
Lupa dari mana asal ceria

Huh...
Betapa bodohnya aku
Yang selalu mendapat teguran berkali kali
Selalu berhasil mendapat perhatianNya
Tentunya perhatian karena keburukan
Keburukan yang berulang...

Read More..

Kenangan dari Perpisahan

                        12-03-2013
Jejak tawa dari hari mulai pudar
Tapak canda dari siang terik mulai halus di akar
Bekas kerjasama dari ingatan mulai sirna dari kekar

Diujung pertemuan memang pasti disambut perpisahan
Namun diujung perpisahan pun pasti dapat salam hangat perjumpaan

Seperti hidup yang disambut kematian
Dan kematian yang telah dinanti oleh kebangkitan
Seperti malam yang dijemput siang
Dan siang yang telah ditunggu sang malam

Pertemuan bukanlah awal
Perpisahan pun bukanlah akhir
Pertemuan menjadi langkah
Perpisahan menjadi pintu
Seperti setiap jalan yang selalu ada pintu dikanan kirinya
Seperti setiap kota yang meninggalkan jejak langkah di permukaan jalannya
Semua silih berganti ditemui
Seperti siang dan malam

Yang akhirnya..
Menjadi secarik tiket pertemuan yang kekal
Atau dapat pula menjadi gapura perpisahan abadi

Read More..

                             03-01-2013
Baru saja
Ku lihat film di televisi
Ceritanya menyegarkan ingatan lama
Tentang sebuah nasihat yang tak pernah mati

Mencintai sesuatu
Janganlah terlalu
Begitu pun jika membenci itu
Karena jika sesuatu
Merusaknya dalam satu waktu
Maka cinta itu bisa menjadikan hati beku
Dapat pula membuat benci jadi cinta yang haru

Ketika cinta yang terlalu
Dikhianati oleh rasa yang pilu
Dusta yang berlabuh dihati satu
Menjadi karat yang dapat jadi hati batu
Rapuh hingga akhirnya runtuh
Hancur menjadi butiran gemuruh
Bagai pasir tertiup angin puyuh
Berantakan hingga tak terdengar keluh
Hati pun dapat menjadi bejat
Karena frustasi telah menyelimuti pekat
Dan depresi yang merasuk dalam sukma berkarat
Hingga pikiran tak dapat lagi melihat
Yang benar itu tampak salah
Yang salah terlihat benar tak gerah
Dan jalan pun akhirnya gelap
Kelam dalam kalbu yang terlahap
Dan diujung bertemu kawanan setan tak gagap
Dan mau juga berteman dengan iblis yang kalap

Walau tak semua seperti itu
Tapi ada baiknya jika tetap menjaga
Karena semua yang terlalu
Tetap saja membawa aniaya

Read More..

2013.....??

                              01-01-2013
Berlalu sudah masa setahun
Kadang tak terasa jika telah maju
Tau-tau sudah di penghujung waktu
Dan banyak impian semakin dikejar terburu

Satahun telah lalu menemani
Mengemban rencana dengan rapi
Namun penghujung waktu tlah berlalu
Masih saja aku merasa jemu
Jemu oleh banyaknya hal yang belum terlampau
Karena ilmu yang belum terjangkau

Semalam berdiri aku diatas bola
Bola besar berisi gas yang besar
Melihat keindahan di tepi pelabuhan
Menatap cantiknya kapal kapal menari
Sambil memancarkan suar dan kembang api
Terpancar kegembiraan di atas bumi
Riang tak menatap pada maut di depan mata

Sejenak aku terkejut
Oleh ketakutan akan kematian
Walau ujungnya tetap dapat ku hirup nafas
Namun sempat pasrah jua hati di depan mati
Berdebar masih menatap keangkasa
Membayangkan bagaimana cara aku mati

Sadar lagi untuk yang kesekian kali
Namun masih saja diri ini ingkar
Tak pernah menjadi lebih baik
Masih tetap menjadi mimpi
Angan. Menggapai surga nanti

Read More..

24......

                               24-12-2012
Tak terasa..
Berlalu begitu lama
Telah banyak pula
Jalan yang dilalui sekian lama

Berliku dan bergelombang
Tak sedikit pula yang terlarang
Penuh tanjakan dan turunan
Penuh harapan dan kekhawatiran

Sayang.....
Hanya sedikit dapat ku ingat
Tak banyak dan samar berlalu kilat
Bagai bayang-bayang yang terang
Hampir tak dapat teraba karena gersang

Ingat akan masa dimana aku berjalan
Menjajakan es di tengah lapangan
Menunggu gerobak dipinggir jalan
Mencari peluang untuk berjualan
Menjual apa yang dapat menghasilkan
Untuk bertahan
Bertahan dalam persaingan
Persaingan kehidupan

Banyak pula kawan aku jumpa
Dari seberang pulau
Hingga tetangga provinsi
Dari tengah kota
Hingga pelosok pegunungan dan hutan
Dari pinggiran sungai hingga pinggir laut

Tak terasa
24 tahun lamanya aku telah berjalan
Sebanyak itu pula aku telah terbangun
Selama itu pula kuhirup udara kehidupan
Entah sampai kapan

Syukur terucap dari dalam sukma
Senang dengan semua perhatianNya
Hingga kini aku dapat terus terbuka
Dan merasakan indahnya titipan
Merasakan sekecap kehidupan
Yang hanya sesaat saja

Read More..

Lidah

                           19-12-2012
Kesekian kali
Mendapat pesan yang begitu berarti
Menerima nasihat yang menegur hati
Halus namun cukup membuat gigit jari

Ternyata lidah ini liar
Masih doyan dengan keburukan
Masih lapar akan aib menjalar
Masih tetap seperti kerasukan

Ternyata lidah ini hina
Masih tega menggunjing tuannya
Masih percaya pada dendam membuta
Masih saja ingin nafsu tersampai gila

Lidah
Katanya tak bertulang
Namun tajam melebihi pedang yang kejam
Katanya tajam
Namun bila terkena sangat menyakitkan

Lidah..
Tak dapat dibuang tak dapat dibuat binasa
Tak dapat sirna tak dapat pula dihina
Tak lazim dibungkus kafan
Walau sepertinya layak mengenakan
Tak umum dikremasi
Walau sepertinya layak untuk dihabisi

Namun sayang..
Baik pun kadang terucap melaluinya
Sopan pun kadang tercermin darinya
Baik kadang dipandang tutur katanya
Sopan kadang dipandang dari wibawanya
Bisakah
Kita bawa lidah
Kita rayu sang lidah
Kita ajak lidah
Untuk bersama menjadi berbeda
Menjadi lebih bermakna
Menjadi lebih berwibawa
Lebih dari segala

Read More..

Resetting Planing

                             19-11-12
Mulai lagi menyusun
Sesuatu yang dulu ditinggal pergi
Pergi menyusun sesuatu yang berbeda

Dulu pernah aku bimbang
Dari saksi akan kebiasaan lama
Dari menerima yang hati ku tak ingin itu terjadi

Dulu pernah ku teteskan air mata
Untuk kebiasaan yang tak aku suka
Untuk senyuman insan diatas kesalahan

Dulu pernah aku merenung
Dari menerima hal yang kecil
Dari tuntutan yang tak berhenti
Dari nafas yang bergantung diujungnya

Kini...
Intinya sama yang telah terjadi
Namun kadang lebih besar
Dan banyak ilmu belum aku mengerti

Kini...
Kembali aku menata rencana
Tentang apa yang akan dilakukan
Tentang langkah yang akan diluruskan

Pilihannya kini tinggal dua
Tetap mencari jalan
Untuk dapat meluruskan
Tetap bertahan dengan semangat yang menggebu
Tetap berjuang diatas tangan sendiri
Dengan kata pedas yang akan selalu ku bawa

Atau....
Memilih untuk diam
Seakan tak ada apa apa
Memilih untuk membisu
Seakan tak ada yang perlu lurus
Memilih untuk mematung
Seolah tak perlu kebiasaan dirubah
Walau dengan hati menentang
Yang kian lama kian redup
Dan hati akan menjadi luluh

Read More..