Kembar ???

                                                             28-01-2019

Mencoba menikmati debur ombak sore hari
Di tepian pesisir berhias angin bernyanyi
Ditemani awan yang menatap ke arah sini
Duduk bertiga diatas lonjoran besi

Mencoba menikmati...
Ombak yang bergulung riuh
Tak peduli pada deretan pemancing yang hening
Tak peduli pada jajaran kepala yang bermain di tepian

Beberapa titik tanah telah aku lalui
Walau masih belum ada seperseribu dunia ini
Walau masih hanya dijalur negeri pertiwi
Walau masih disisi bumi ini

Kurasa...
Dimana aku menjejakkan kaki
Dimana aku menghembuskan nafas ini
Dimana aku melepaskan pandangan penuh nyali
Dimana aku merebahkan punggung tak berduri

Kutemui orang-orang serupa
Mereka berbeda
Beda jiwa
Beda nafas
Beda nyawa
Namun bagiku mereka benar serupa
Ada yang serupa raga
Ada yang serupa nama
Ada yang serupa aura
Ada yang serupa suara
Ada yang serupa kata kata
Ada yang serupa watak
Ada yang serupa cela
Ada yang serupa hina
Ada yang serupa mulia

Benarlah...
Hubungan baik itu perlu dijaga
Paling tidak, tak perlu kita membuat luka
Dan juga
Menghadapi masalah itu mulia
Selain membuat diri tak terpenjara
Juga akan bebas dimanapun berada
Tanpa ada rasa waswas yang menyapa
Tanpa ada rasa terkejar masa lalu tanpa asa

Karena dimanapun kita melangkahkan jiwa
Disana akan kita berjumpa juga
Dengan apa yang pernah kita hindari sebelumnya
Atau juga
Berjumpa dengan yang telah  kita hadapi ditempat lainnya

Seperti asap, api, angin, tanah, air, petir.....
Dimanapun tempatnya
Mereka selalu ada
Hanya dalam bentuk yang kadang berbeda
Atau dengan perilaku yang tak sama...
Asap ...
Saat kita jumpa diatas nyala lampu minyak
Tampil dengan warna hitam nya,
Saat kita jumpa dengan para pengguna vape...
Mereka muncul dengan warna putih dan aroma manisnya

Angin...
Saat kita berada dipegunungan
Jumpa dengan sejuk dan dinginnya
Saat kita berada di kutub
Merasalah kita dengan kebekuannya yang menusuk
Saat berada di tengah perbedaan temperatur lingkungan ekstrim
Jumpa kita dengan kecepatannya yang menggelora

Api...
Saat diatas lilin ditengah meja makan
Tampak suasana romantisnya
Saat diatas pemusnahan sampah
Tampak suasana panas yang sedikit menggelora
Ketika yang melahap rumah atau barang berharga
Maka akan terlihat keganasannya

Tanah...
Saat kita jumpa ditengah pemukiman yang sejuk dan tentram
Terasa ketenangannya
Saat kita saksikan longsoran di pengunungan gundul
Tampak rasa ngeri mengikuti
Saat kita jumpa rapuhnya pijakan dunia
Akan kita lihat rasa takut menghantui
Dan menyelimuti rasa derita pada pemukiman pasca gempa

Air...
Saat kita penuh dahaga
Hadir dia menggelora dalam membasahi rasa
Saat gerah menyerbu raga
Hadir dia menyegarkan dan membersihkan
Saat hujan dengan intensitas normal
Hadir dia membawa kesejukan dan suasana dingin
Saat muncul dengan nama yang ganas...Banjir Melanda
Sengsaralah para pasukan bernyawa yang ada di depannya

Petir...
Dia hadir sebagai kumpulan tenaga yang menggelora
Dalam hidup keseharian
Kecil dalam balutan karet dan plastik
Membantu semua merasakan indahnya dunia
Dalam hujan
Adanya dia membantu memecah gumpalan air dilangit
Namun...saat wujud raksasanya yang bertandang
Beruang pun dapat menjadi debu yang bertaburan

Dimanapun berada...
Selalu kita akan jumpa
Begitu juga dengan manusia...
Dimanapun tempatnya,
Isinya selalu sama
Hanya berbeda jiwanya
Hanya berbeda nafasnya
Hanya berbeda nyawanya

Read More..

Yang Kecil Pun Turut Berganti

                                                                       17-01-2019

Tahun..Bulan...Hari....Jam.....Menit......Detik.........
Waktu telah berganti
Banyak hal pun mengiringi
Dari satu ke yang lain
Dari debur ombak hingga warna langit

Kini telah berganti lagi
Tahun dalam perhitungan masehi
Diiringi pula oleh hari-hari
Yang setia sejajar mendampingi
Musim mungkin lebih awal berganti
Ombak mungkin lebih dulu berlari
Dingin mungkin tiba lebih dini
Namun semua seakan sama
Melangkah dalam waktu seirama
Seperti tanpa gema
Tanpa bayangan yang tersisa

Seperti hal nya tahun
Suasana pun dalam hidup tak tertimbun
Bergerak mengikuti pusaran waktu yang anggun

Kini aku disini
Menapak jejak di atas tanah yang baru
Menghirup rendah udara pulau bali
Menangkap suara ombak menderu
Memandang pegunungan yang tampak berani
Merasakan tatapan langit yang lembut tak sayu

Bagai mendapat timbunan Ruby
Menatap ilmu banyak menanti
Tajam pula pandangan wawasan mengamati
Seakan langkah telah ada yang menarik tali
Tapi hati tetap perlahan bergerak dengan pasti
Mencoba untuk dapat menikmati
Apa yang akan digenggam dalam hati
Apa yang akan disandar disisi kepala ini

Dibelakang....
Ada tempat yang ditinggal pergi
Namun tak akan pernah hilang ditelan gelapnya hari
Karena yang lalu....
Tetaplah menjadi masa lalu
Namun itu tetap berarti....
Karena setitik tunas yang menerbitkan masa kini
Dan itu tak akan pernah bisa terhapus mati
Akan tetap melekat dalam setiap pandang

Kini..
Biarkan hati menyusuri
Jalan dan setapak yang ada disini
Biarkan telinga dan imaji menikmati
Angin, ombak, hujan, panas, dingin dan gunun ug berdiri
Biarkan hati melangkah dengan pasti

Read More..

Mimpi Rindu

                                                 15/06/2018

Pagi tadi...
Ya...pagi tadi,
Saat suara takbir berkumandang..
Saat suara itu melambangkan kemenangan
Dan kesedihan...
Karena berjumpa dengan bulan berkah
Dan berpisah dengan bulan indah
Merdu...sendu.....haru.....

Namun sayangnya..
Kepala tak bisa diam
Karena diam mengundang mimpi menjemput
Karena diamku adalah lorong...
Menuju dunia penuh kehampaan
Ketenangan....
Keheningan...
Dunia mimpi....yang kosong

Ya...
Datanglah bayangan-bayangan
Keluarga...
Kawan..
Rekan...
Pekerjaan..
Perjuangan...
Pengorbanan..
Khayalan...
Impian...
Pertengkaran..
Dan.....
............tak terungkapkan

Anehnya...
Tiba~tiba
Seandainya Engkau disini ya Rasul
Seandainya Engkau ada ditengah kami
Seandainya Engkau ....
..........bersama kami
Tentu pertikaian ini tak sejauh ini
Tentu perselisihan ini tak setinggi ini
Karena Engkau....
Mendadak hati ini rindu ya Rasul
Aku sadar...
...seandainya....aku terlahir pada zaman Engkau diangkat
Tak ada jaminan aku akan mencintaimu
Tak ada jaminan aku akan mengikutimu
Karena itu...
Seandainya Engkau disini ya Rasul
Aku ingin berjumpa denganmu
dan bertanya....bertanya apapun
Aku ingin berjumpa denganmu
dan mendekat,
Kupikir...hanya mendekat denganmu
Hati ini akan terasa tenang
apalagi mendengar suaramu

Kemudian tersadar aku
Dan berfikir...
...kenapa bisa terbesit hal itu
Apa aku tertidur
Atau aku terlalu menikmati
Berputarnya kepala ini
Yang meniti jalan~jalan semu
Menjemput pikiran yang jauh
Menjaga agar tak terpejam mata
Agar tetap terjaga

Read More..

Like Father Like Son

                                                 14/06/2018

Ternyata...
Pepatah yang berkata
Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya
Memang benar adanya
Walau tak semua
Bisa dikata hampir semua

Dulu..
Aku melihat papa disana
Begitu sibuknya
Mengabdikan diri untuk negara
Tak tau itu apa
Pengabdian atau Tanggung Jawab yang tak dapat diabaikannya
Hingga pada suatu acara
Seperti hari~hari besar Agama
Hari~hari Raya
Selalu saja berlalu tanpa jejaknya
Karena beliau menapakkan langkahnya
di jalanan...memastikan keamanan
Memastikan perjalanan yang lain aman
Hingga sanak saudara
Hanya dapat melihat wakilnya saja

Kini...
Tak pernah ada rencana
Untuk mewarisi jejak yang telah beliau tanam
Untuk mengikuti arah yang telah beliau ukirkan
Ternyata Aliran nafas kehidupan menarik diri ini
Masuk kedalam pusaran tanggung jawab yang hampir serupa
Dan akhirnya
Kini sanak saudara hanya melihat wakil ku
Dalam beberapa acara temu
Termasuk hari~hari besar itu
Termasuk hari ini.....

Yaa...
Untuk sekedar menghibur hati
Sering terbesit ucapan menenangkan
Jika dulu papa memastikan amannya perjalanan orang~orang
Untuk dapat berkumpul bersama
Dihari yang besar
Maka aku memastikan agar orang-orang bisa memasak untuk makan bersama
Dihari yang besar

Read More..

Banjir

                            10.01.2017

Biasanya berlalu lewat berita
Biasanya tampil dalam layar kaca
Wajah duka dan penuh harap
Tenaga yang terkuras dan tergagap

Malam ini aku meluncur pulang
Didalam sebuah bus malam penuh tak sesak
Melalui kota demi kota gemilang
Dan berhenti sesaat untuk melihat
Tak dapat berlalu lancar seperti biasa
Mata pun memandang dua orang
Yang dikira penjual nasi goreng atau semacamnya
Menatap kedalam sebuah gang
Berjongkok

Dari sini,
Sepertinya itu terendam air
Karena dihiasi serakan sampah
Roda bergulir kedepan
Tampak sedikit jelas akhirnya
Kenapa perjalanan sedikit tersendat
Jalan didepan mungkin digenangi air
Karena rumah di belakang itu terendam separuh
Roda bergulir kedepan
Tampak sebuah jalan masuk
Dipenuhi air berlinang
Tampak rumah bagai mandi berendam air dalam bak
Semakin kedalam
Tampak petugas duduk diperahu
Lelah

Ternyata ditampakkan pula dihadapan
Sedikit pesan pengingat
Bahwa tak selamanya dapat terus terhindar
Namun tak juga mustahil untuk menghindar
Hanya sepucuk pesan
Yang merendam banyak kehidupan

Read More..

2017

Tahun telah berganti lagi
Baru saja berlalu beberapa hari
Dan tangan teringat membuka diary
Dan mencoba mencatat kembali
Satu dua kata hati
Kalau memang bisa disebut hati

Kali ini tulisan sendiri
Bukan dari kawan atau sanak family
Bukan dari rekan atau dari belahan hati
Bukan pula dari pohon yang berdiri
Hanya ingin sedikit tertumpah
Walau lebih kearah keluh kesah
Dan terdengar seperti sampah
Hati yang tak bergairah

Hampir dua putaran masa matahari
Berjalan di kehidupan seperti saat ini
Diawali karena rasa percaya diri yang tinggi
Dengan bumbu ketidakpercayaan pasti
Kekhawatiran akan campurtangan yang rusak
Ketakutan akan jalan menjadi penuh kerak
Akhirnya melewati dengan beriring benci
Tak lupa membawa dusta dihati
Walaupun di ujung nya mulai membuka diri
Dan terang untuk semua telah ditulis
Tetap saja rasa itu masih ada

Diawali oleh khawatir
Tumbuh menjadi ketakutan
Lahirlah kebencian
Berkembang menjadi kebohongan

Lingkungan ini sungguh terasa menyulitkan
Kadang terasa lelah
Seperti terlalu besar berupa beban
Kadang terasa bersemangat
Seperti terlalu ringan bagai awan

Yang menjauhkan akhirnya dijauhkan
Yang mendustai akhirnya tersembunyi
Yang dikhawatirkan akhirnya menjadi menakutkan

Nafas ini kadang tampak ringan
Kadang tampak berat
Jika dilihat bagai kunang-kunang
Kadang redup kadang terang
Terasa pula bagai jantung
Kadang kempis kadang mengembang

Dari sudut pandang sang awan
Kaki ini terlihat nyaman
Ketika dirumah tampak bagai berhari-hari lamanya
Seperti seorang pengangguran
Walau sebenarnya dapat dihitung menggunakan jari tangan
Ketika di laut pun rasanya lama
Dan tentu jari tangan perlu tambahan
Sedangkan perjalanan diantaranya tampak begitu lama
Walau sebenarnya hanya berupa hitungan jam
Namun disatu sisi perjalanan itu
Menjauhi yang ingin selalu dekat
Dan disisi satunya benar-benar menjauhi yang ingin dijauhi

Apa yang bisa dijauhi kini hanyalah diri sendiri
Mencoba mengubur jati diri sebagian
Kerusakan mulai menggerogoti mental
Dan memang dibiarkan seperti itu
Mulanya tegak pada tonggak
Mulai jatuh seiring terbenamnya mentari
Dan memang dibiarkan seperti itu

Seandainya bukan lelaki
Mungkin sudah berdagang air mata
Menjajakan ratapan kesedihan
Mengumbar keluh kepedihan
Bagai mayat hidup menunggu obat kematian
Namun berharap pula dapat cahaya kehidupan
Seandainya bukan lelaki
Mungkin dinding hati akan dibiarkan berserakan
Karena hancur oleh retakan kepedihan
Getas oleh sakitnya kesendirian
Sayang itu hanya seandainya
Dan berandai-andai sungguh dijauhkan

Kini...
Tahun telah berganti
Telah berjalan beberapa hari
Walau hati tetap mengharap dapat kembali
Namun saat ini hanya dapat menjalani
Bertemu dengan kejenuhan
Bertemu dengan kesendirian
Bertemu dengan kepedihan
Bertemu dengan kebencian
Bertemu dengan kapahitan
Dan akan selalu membawa hati
Dalam kotak laci terkunci
Didalam sebuah brankas tersembunyi
Membiarkan semua berlalu
Dengan wajah yang tersenyum
Aura terang membiru
Cahaya semangat seperti baru

Agar yang melihat dapat selalu senang
Agar yang bertemu dapat selalu riang
Tanpa perlu tau hati bimbang
Semua hanya perlu tahu
Hidup itu untuk senang

Seperti kata seorang kawan
"Hidup itu mudah, hanya yang menjalaninya yang membuat tampak susah"
Hanya perlu menampakkan mudahnya kehidupan
Agar kemudahan menjalani dapat tertular
Dan semua dapat merasakan senang

Read More..

Alunan Waktu

Sungguh..
Waktu berlalu begitu cepat..

Saat anakku melambaikan tangannya
Seraya mengatakan ucapan selamat
"Abi kerja"
"Hati-hati"
"Ikut dulu"
"Dadah"
Rasanya baru kemarin kami mengajari bicara
Rasanya baru kemarin kami ajarkan berlari
Rasanya baru kemarin kami ajarkan berjalan
Rasanya baru kemarin kami memandikan
Rasanya baru kemarin kami menimang sesaat setelah lahir....

Sungguh,..
Waktu berlalu begitu cepat

Menengok sesaat ke adik-adikku yang t'lah dewasa..
Rasanya seperti masih menatap mereka
Yang hanya setinggi 80 cm
Rasanya seperti masih menggendong mereka
Dipunggung menuju sekolah
Rasanya seperti masih menggandeng
Melewati jalanan becek dan debu

Sungguh,..
Waktu berlalu begitu cepat

Seperti baru saja kulalui masa kuliah
Bahkan kadang seperti beru kemarin selesai SMK
Atau baru kemarin juga keluar dari SLTP
Rasanya baru puas melewati sekolah dasar

Sungguh,..
Waktu berlalu begitu cepat

Dulu yang setiap hari kulalui dengan menatap wajah kedua orang tuaku
Kini kulalui dengan menatap wajah istri dan anakku

Dulu yang setiap hari kulalui dengan pandangan kamar rumah dan jalanan
Kini kulalui dengan pandangan jalanan lautan kantor dan rumah

Sungguh,..
Waktu berlalu begitu cepat

Sesal hanya menambah ketidak ikhlasan dalam menjalani kehidupan
Kadang aku merasa lelah
Dan hanya ingin berhenti disatu waktu
Dan menghentikan waktu sesaat
Untuk menikmati waktu-waktu
Senang bersama kedua orangtua
Senang bersama adik-adik
Senang bersama istri dan anak

Sungguh,..
Waktu berlalu begitu cepat

Karena semua menganggapnya begitu
Dan ingin rasanya
Menganggap waktu itu berjalan cukup lambat

Read More..

Guratan di Kaca Bus

Hahahaha....
Mungkin hanya seutas tawa dalam senyuman
Yang dapat aku teriakkan dalam dalam
Menyisir sekitar dengan pandangan
Menyelimuti pikiran dengan lamunan

Menjadi saksi dipadatnya angkutan ini
Mengingatkanku dengan sosok yang ku kagumi
Saat pasukan ratusan manusia menyambut indah
Sebuah warna didalam kalender cerah
"Tanggal berwarna merah"

Papa..
Seorang patriot dan superhero
Dimana negara ada dipundaknya
Serta keluarga dalam genggaman jemarinya

Hampir setiap kawan merayakan hari liburnya
Di tanggal merah yang tampak sakral
Kami nikmati dengan pandangan sudut sudut rumah
Pandangan latar dan pekarangan
Serta imajinasi alam luar yang mempesona

Namun jangan anggap itu kesedihan
Karena..
Dikala kawan tertidur dalam selimut malam
Kami ceria menyusuri jalanan dan menyapa alam
Saat semua sibuk berjibaku dengan peluhnya
Kami ceria berjibaku dengan tanggal merah kami sendiri

Terasa...
15 tahun lebih telah berlalu,
Dan kini..
Menurun padaku apa yang terjadi dulu
Mungkin sebuah warisan
Warisan ideologi dan idealisme yang bergema
Yang mengeluarkan gelombang prinsip jiwa
Dan terlahir mengalir jalanan yang sama
Jalanan kehidupan lengkap dengan aromanya

Kini aku berdiri ditengah kerumunan penumpang
Berdiri menatap semua dengan senang
Bernostalgia
Dan merakit ingatan ingatan lama
Merangkai bahan bahan cerita
Menunggu hingga terasa lelah

Read More..