Lamunan siang yang tak terang

                                          28-09-2012
Gema sang awan membawaku pergi
Pergi menyusuri jalan kota ini
Sendiri mencoba memandang hati
Yang tampak tak pernah letih
Walau teriknya sang siang membunuh benih
Melumat daratan tanpa rasa kasih Menghujamkan panas yang menyengat baju ari

Aku terduduk sesaat
Dibawah pohon sedikit rindang
Di depan mall yang belum mulai bernafas
Kulihat....
Banyak orang mulai berdatangan,,,
Dari yang akan mencari nafkah didalam gedung itu
Maupun yang mengais rezeki di emperan
Banyak air muka kulihat
Masam.....sampai manis melekat
Senyum yang terpasang apa adanya
Hingga kerutan dahi ada apanya
Ada yang tertawa lepas..
Tersenyum dikulum
Ceria dalam kesedihan
Bahkan menangis ditengah keramaian
Ada pula yang menunggu
Menanti yang tak kunjung tampak
Hingga tertegun dalam bersama lamunannya

Sesaat aku melihat seorang ibu paruh baya
Mulai menata barang dagangannya
Dibantu sang suami yang sedikit tegap tentunya
Dihalaman yang tak pernah ramah

Teringat aku dengan umi ku
Dikala dulu berjuang
tak pernah henti berdagang
Ini itu tak menentu
Demi sekolah 3anak yang sedikit tak tau malu
Berhutang sana sini dengan raut letih dan lesu
Berjalan sana sini pun hingga layu
Berangkat setelah shubuh
Ditemani anak anak serta suami
Mencoba membantu menggalikan rizqi
Ditengah kejamnya kota yang tak tahu santun

Kini...... aku disini Jadi seperti ini Dengan semua tetesan keringat
Dan air mata mereka yang telah membimbingku Menyayangi......hingga akhir masa..
Ku pikir..semua orang disini pun sama
Untuk apa langkah itu dilalui
Walau harus memeras nafas
Yang hanya tersisa secangkir gelas


| Free Bussines? |

Tidak ada komentar:

Posting Komentar