Nenek (2)

                 06-05-2013
Teringat..
Dulu ketika awal aku berkenalan
Berkenalan dengan tulisan
Tulisan yang mungkin menjenuhkan
Menjenuhkan bagi yang mencoba mengartikan

Kala itu aku membaca disebuah buku
Tentang puisi berjudulkan nenek ku
Kemudian ku coba mengambil kertas baru
Dan mulai kutulis ulang semua itu
Kubaca berulang kali
Dan ku ubah sesekali
Ku ganti kata demi kata
Hingga seakan menjadi kalimat yang bias
Yang belum pernah terukirkan
Yang belum pernah terpikirkan
Hingga saat ini aku tersenyum sendiri
Sedikit masam mengenang masa itu...
Kini coba ku ungkap
Yang sesungguhnya ada dalam nurani.

Aku kenal beliau sejak kecil
Ku ikuti langkah dan senyumnya
Ku sambut pulang letih dan binar matanya
Dia lah nenek ku
Yang mengasuhku diwaktu itu
Waktu dimana aku belum tau sesuatu

Aku panggil dia ibu
Karena mami ku memanggilnya seperti itu
Sering ku buat marah beliau
Namun tak mampu mengalahkan sayang nya padaku

Langkah kaki nya tegar
Tak pernah gontai walau sesaat
Genggamannya halus namun erat
Bagai kain beludru diselimuti serat

Hatinya benar benar sebening tetes embun
Tampak bersih dan menyejukkan
Hatinya benar benar sekuat bambu
Walau tampak lembut
Akan sangat menyiutkan nyali jika aku diganggu

Beliau ajarkan aku kesehatan tanpa obat
Berkenalan dengan tanaman buah yang berkasiat
Dan melingkupi nafas dengan oksigen tanpa karat
Udara pagi selalu meliputi disetiap langkahnya

Jalan puluhan kilometer sudah menjadi sarapan paginya
Silaturahim menjadi santapan malamnya
Dan mengangkat saudara dari kesusahan adalah makanan siangnya

Hatinya yang besar belum dapat aku cerminkan
Yang menerima setiap fitnah dan ejekan
Seraya berkata
"Tidak apa-apa, jika tidak kepada kita, kepada siapa lagi mereka dapat melakukannya"

Beliau bagai perisai di hadapan hatiku
Beliau bagai akar di bawah jiwaku
Beliau bagai pohon kasturi di atas jasadku
Beliau bagai penjaga di belakang nyawaku

Menuntun pada seruan Adzan yang indah
Menuntun pada bacaan qur'an yang menggema
Menuntun pada maaf yang tak biasa
Menuntun pada kasih sayang saudara

Kini...
Hampir 12 tahun jasad beliau tertidur
Hampir selama itu pula aku melangkah tanpanya
Hampir selama itu kucoba mengerti didikannya
Hampir selama itu....
Aku mencoba bertahan sepertinya

Semoga kelak
Kami dapat bertemu di surgaNya
Atau jika aku tak sampai
Dapat kulihat senyumnya dari nerakaNya
Walau hanya sekedar memastikan keberadaannya
Benar bahagia di dalam surgaNya


| Free Bussines? |

Tidak ada komentar:

Posting Komentar