Mulai Menua

                 10-05-2013
Daya tahan ku mulai meredup
Tubuh ini mulai melemah dan sayup
Organ pun tak setegar di masa lalu
Begitu pula dengan kepala yang membatu

Kemarin terbawa aku
Pada suaru waktu yang mendesak ku
Mendesak untuk dapat berdiri terpaku
Menunggu
Menunggu sebuah kepastian waktu
Demi tanggung jawab yang menahan ku

24 jam berlalu
Bersandar pada kasur 4 jam aku
Kemudian terjaga dan bertahan 8 jam tak semu
Terpejam mata ini kembali 2 jam terburu
Dan siap kembali untuk 6 jam dalam hitungan waktu
Istirahat jiwa ku 1,5 jam lamanya hingga shubuh menyentuh
Dan siaga aku hingga 9 jam yang baru

Kini setelah 2 jam membaringkan tubuh
Aku mulai berfikir mundur memandang ke dalam
Mencoba melihat fakta
Mencoba meraba makna

Mungkin kepala ini telah letih
Menahan beban pikiran disela neuron neuronnya
Menahan mata untuk tetap terjaga
Menahan hidung untuk tetap terbuka
Menahan telinga untuk terus mendengan suara
Menahan tangan kaki untuk terus siaga
Menahan jantung dan organ tetap kerja
Menahan hati bertahan nyata
Manahan agar semua seakan berjalan sesuai rencana

Nyatanya..
Kepala ku terasa kosong
Bagai komputer yang tiba-tiba hang
Dan bagai kertas yang benar-benar blank
Bicara pun rasanya tak terangkat
Mendengar namun tak terpusat
Berfikir namun terasa terjerat

Huh...
Kondisinya benar-benar beda
Lain seperti dulu
Lain masa lain pula daya
Ku rasa tandanya telah tiba
Semakin banyak terkumpul iba

Mulai gigi yang dulu tanggal dan mulai rusak
Pandangan yang tiba-tiba menua
Dan daya yang mulai tak terjaga

Namun..
Berharap ini belum waktu ku
Masih banyak yang harus dilalu
Walau diri sudah mulai melemah
Hati masih ingin tampak gagah

Read More..

Hati yang Gelap

                 07-05-2013
Mencoba diri ini
Menimbun kegelisahan dalam-dalam
Mencoba hati ini
Mengubur kegelapan dalam-dalam

Kini..
Aku masih saja terpuruk
Diantara gelapnya dunia penuh nafsu
Terpojok dijalan tua yang menakutkan
Hingga kegelapan seakan menjadi pilihan

Kini..
Masih saja aku terperosok
Terperosok kedalam liang yang sama berkali kali
Mencoba sudah hati untuk dapat melepas
Namun masih saja terjerumus kedalamnya

Kadang hati ini sadar apa yang dilakukannya
Kadang jiwa ini penuh tangis karenanya
Kadang tubuh ini berselimut sesal dibawahnya
Kadang pikiran ini lelah pula ditengahnya

Ketika berjalan aku
Ku coba menarik langkah kaki ke masa lalu
Mencoba melihat kembali saat aku terjatuh
Saat kegelapan menyelimuti
Saat kegelapan menjadi kawan
Saat kegelapan menjadi pakaian
Mencoba mendengar kembali
Saat kegelapan menjadi lawan bicara
Saat kegelapan menjadi suara di kepala
Saat kegelapan seakan menjadi naluri dalam nurani
Menjerat hati
Mengelabui langkah kaki
Terjerat aku dalam kubangannya

Kini.
Aku ingin pergi
Dari gelapnya hati
Dari gelapnya mata ini
Dari gelapnya nafas siri
Dari gelapnya langkah kaki
Aku ingin pergi...
Walau tak meminta aku agar gelap itu pergi
Yang kupinta hanya itu....
Dijaga aku dari gelap itu
Dijaga aku dari kebrukan itu
Dan dijaga aku pula dari nafsu
Yang meninggalkan debu
Yang membawa pada neraka aku

Read More..

Nenek (2)

                 06-05-2013
Teringat..
Dulu ketika awal aku berkenalan
Berkenalan dengan tulisan
Tulisan yang mungkin menjenuhkan
Menjenuhkan bagi yang mencoba mengartikan

Kala itu aku membaca disebuah buku
Tentang puisi berjudulkan nenek ku
Kemudian ku coba mengambil kertas baru
Dan mulai kutulis ulang semua itu
Kubaca berulang kali
Dan ku ubah sesekali
Ku ganti kata demi kata
Hingga seakan menjadi kalimat yang bias
Yang belum pernah terukirkan
Yang belum pernah terpikirkan
Hingga saat ini aku tersenyum sendiri
Sedikit masam mengenang masa itu...
Kini coba ku ungkap
Yang sesungguhnya ada dalam nurani.

Aku kenal beliau sejak kecil
Ku ikuti langkah dan senyumnya
Ku sambut pulang letih dan binar matanya
Dia lah nenek ku
Yang mengasuhku diwaktu itu
Waktu dimana aku belum tau sesuatu

Aku panggil dia ibu
Karena mami ku memanggilnya seperti itu
Sering ku buat marah beliau
Namun tak mampu mengalahkan sayang nya padaku

Langkah kaki nya tegar
Tak pernah gontai walau sesaat
Genggamannya halus namun erat
Bagai kain beludru diselimuti serat

Hatinya benar benar sebening tetes embun
Tampak bersih dan menyejukkan
Hatinya benar benar sekuat bambu
Walau tampak lembut
Akan sangat menyiutkan nyali jika aku diganggu

Beliau ajarkan aku kesehatan tanpa obat
Berkenalan dengan tanaman buah yang berkasiat
Dan melingkupi nafas dengan oksigen tanpa karat
Udara pagi selalu meliputi disetiap langkahnya

Jalan puluhan kilometer sudah menjadi sarapan paginya
Silaturahim menjadi santapan malamnya
Dan mengangkat saudara dari kesusahan adalah makanan siangnya

Hatinya yang besar belum dapat aku cerminkan
Yang menerima setiap fitnah dan ejekan
Seraya berkata
"Tidak apa-apa, jika tidak kepada kita, kepada siapa lagi mereka dapat melakukannya"

Beliau bagai perisai di hadapan hatiku
Beliau bagai akar di bawah jiwaku
Beliau bagai pohon kasturi di atas jasadku
Beliau bagai penjaga di belakang nyawaku

Menuntun pada seruan Adzan yang indah
Menuntun pada bacaan qur'an yang menggema
Menuntun pada maaf yang tak biasa
Menuntun pada kasih sayang saudara

Kini...
Hampir 12 tahun jasad beliau tertidur
Hampir selama itu pula aku melangkah tanpanya
Hampir selama itu kucoba mengerti didikannya
Hampir selama itu....
Aku mencoba bertahan sepertinya

Semoga kelak
Kami dapat bertemu di surgaNya
Atau jika aku tak sampai
Dapat kulihat senyumnya dari nerakaNya
Walau hanya sekedar memastikan keberadaannya
Benar bahagia di dalam surgaNya

Read More..

Sepucuk Kata untuk Ayah Ibu ku

                 05-05-2013
Teringat beberapa sobekan
Sobekan memori dari masa lalu
Masa dimana aku dibesarkan
Dibesarkan oleh sepasang manusia yang begitu luar biasa

Tak terbayang
Kelak aku juga akan punya keturunan
Namun aku tau
Aku tak kan bisa sabaik itu
Sebaik mereka mengurus dan mendidik ku
Seluar biasa itu.

Aku ingat
Mereka mengarahkan ke jalan yang aku tak pernah tau
Mereka buat aku merasa semua yang perlu
Seakan dari seratus isi dunia
Aku harus bisa melihat semua
Walau tak sempurna

Mereka mengajarkan membaca
Membaca tulisan
Membaca perasaan
Membaca keadaan
Membaca semua yang rentan

Mereka mengajarkan semua
Mulai indahnya ketidakpunyaan
Hingga beratnya terpenuhi semua dengan godaan
Hidup dengan kesusahan
Hingga hidup dengan limpahan kekayaan
Hidup dalan kenangan
Hingga hidup tanpa kenalan
Hidup yang nyata
Yang terbelit hingga tampak longgar nafas terhirup
Dari kehidupan yang nyata hingga berpapasan dengan ghaib

Mereka mengenalkan
Pada perhatian dan kasih sayang
Pada kekerasan dan ketegasan
Pada hadiah dan hukuman
Pada keburukan dan keindahan
Pada yang terselubung dan yang tertampakkan

Mereka menunjukkan
Betapa indahnya perjuangan
Betapa indahnya anugerah
Betapa indahnya kesabaran
Betapa indahnya ketabahan
Serta ikhtiar yang benar benar tak kan sirna termakan zaman

Mereka antarkan aku untuk merasakan
Apa itu kesendirian
Apa itu kebersamaan
Apa itu kehidupan
Serta arti indahnya kematian

Mereka bimbing aku dalam langkah
Langkah yang tegar dalam kekalutan
Langkah yang indah dalam kesedihan
Langkah yang ceria ketika dalam permasalahan

Dan masih banyak yang mereka tanam
Tertanam dalam di hati ini
Terakar dalam tubuh ini
Hingga terukir dalam kepala

Tak akan sirna dari kenanganku
Tak akan pudar dari jiwaku
Tak akan musnah dari pandanganku
Tak akan lepas dari genggamanku
Mereka yang begitu berarti bagiku

Aku berharap
Aku berdo'a
Aku memohon

Agar kelak
Kami dapat bertemu di surgaNya
Atau jika aku tak sampai
Aku ingin melihat mereka dari nerakaNya
Walau sekedar memastikan
Mereka bahagia di surgaNya

Read More..

Cermin Bangsa ini (3)

                   05-05-2013
Ternyata selain tak bisa melihat
Juga tak bisa mendengar
Huwh...
Lengkaplah es campur negeri ini

2 hari yang lalu
Di bandara aq berada setengah jenuh
Menyaksikan sesuatu yang membuat hati merasa pilu

" urutan masuk ke pesawat....
Rear row, ... Middle row, ... Front row,... "

Namun..
Yang masuk bukanlah seperti itu
Melainkan bagai anai yang tertebar
Bagai semut ketika mendapat ketukan
Bagai angin yang menghancurkan

Berkali-kali..
Sama keadaannya
Entah itu pelabuhan atau terminal antar kota
Entah itu fasum dimana mana

Mendengar
Itu memang sangatlah sukar
Melihat
Itu pun juga susah untuk mengakar
Melakukan....
Terlebih susah untuk terjadi di tengah kakacauan itu

Lengkaplah apa yang dilahirkan bangsa ini
Dari penjahat sampai ustadz
Dari orang baik hingga bejat
Dari professor hingga profesi seadanya
Dari orang sehat hingga sakit
Entah sakit fisik atau sakit akal dalam kekalutan negara ini

Peraturan
Bukanlah sarapan
Panduan
Bukanlah makan siang
Terlebih lagi undang-undang
Bukanlah santapan malam yang lezat

Justru
Kerusuhanlah yang menjadi makan malam
Penipuan dan korupsi adalah makan siang
Pelanggaran adalah santapan pagi hari

Kering..
Kering dari kewarasan
Gersang..
Gersang dari kepatuhan

Benak ku pun akhirnya terpengaruh
Terbayang akan masa depan
Masa depan yang diliputi kesuraman
Kesuraman akan kacaunya dunia tanpa tuntunan
Kesuraman bangsa tanpa adanya peraturan
Kesuraman tanpa ada benih kebaikan...

Read More..

Ada Apa Dengan Demokrasi

                   30-04-2013
Besok..
Peringatan hari buruh..
Aku teringat beberapa momen
Diwaktu lalu yang menjadi debu

Awalnya ingin menyampaikan suara
Berlanjut dengan janji damai
Kemudian panas mulai membara
Hingga akhirnya jalan pintas anarki

Huh..
Sebenarnya lelah menjadi saksi
Entah itu telinga atau mata serta hati
Diujung hanya melihat kerusakan
Dan kerugian sepertinya harus menjadi santapan
Yah....
Kalau yang merusak rasanya enak
Enjoy saja dapat melampiaskan kekesalannya
Yang dirusak hanya bisa mengelus dada
Seraya berfikir siapa yang mengganti kerugiannya

Dan akhirnya.....
Hanya mereka yang tau

Baru aku mendengar
Demonstrasi...
Dilakukan lagi...
Lagi lagi dengan setengah anarki
Tanpa melihat siapa yang rugi

Sepertinya berfikir jernih sekarang bukan jamannya
Dan diplomasi bukan hobi yang jadi pilihan
Mereka lebih suka kekerasan
Tapi juga dulu menuntut disahkan  undang-undang anti kekerasan

Kurasa..
Ini era yang membingungkan
Ini masa yang suka berputar putar
Ini zaman yang tak tau dimana ujungnya
Ini....
Dunia yang aku tak kenal lagi
Baik tampak buruk
Buruk tampak selalu baik
Benar-benar...
Sukar untuk dipahami
Makna yang satu
Berbeda dengan makna yang lain
Seakan yang memberi makna
Memiliki tujuan sendiri-sendiri

Ah...
Entahlah
Apa aku harus biarkan
Atau berbuat yang aku pun belum tau

Read More..

Cermin Bangsa ini (2)

                26-04-2013
Kali ini
Terungkit lagi kebencian hati
Oleh ego para perokok
Yang begitu acuh menyalakan
Menyalakan asap kematian

Mereka begitu angkuh
Lebih angkuh dari merak dengan ekornya
Mereka begitu acuh
Dengan asap yang dibuatnya diudara
Tak peduli racun yang disebarkan
Tak peduli pada sakit yang ditaburkan

Begitu ringannya
Begitu besarnya ego
Menebar di kerumunan orang
Dalam bus
Terminal, stasiun, mall, tempat makan
Bahkan dalam kantor
Yang jelas tertulis " Dilarang Merokok "
Apakah  mereka tidak bisa membaca
Atau tidak bisa melihat
Atau......
Entahlah...
Negeri ini semakin susah dimengerti

Read More..

Cermin Bangsa Ini (1)

                   25-04-2013
Kadang aku merasa heran
Dengan pengendara di kanan kiri ku
Dengan yang melaju di hadapan ku
Dengan yang berpacu di belakang ku

Aku pun heran dengan mereka
Mereka yang sebagian besar buta
Buta akan warna yang ada di depan mata
Buta warna hanya dapat melihat
Mana yang dikatakan gelap dan terang
Namun yang kujumpai lebih parah rupanya

Bagaimana tak parah
Mereka tak dapat melihat warna
Garis pembatas di trafic light
Ditatap seperti tak ada garis sama sekali
Tak dapat melihat mana hijau dan mana yang merah

Yang ku tau
Mereka
Menunggu di depan tafic light
Tanpa melihat kapan merah
Kapan hijau kan berpijar

Tau tau
Dari belakang bel berbunyi kencang
Padahal kulihat hijau akan berpendar beberapa detik lagi
Dan ketika hijau menyapa di awal waktu
Suara bel semakin kencang

Kurasa
Sebagian besar orang d jalan raya
Sedang mengalami kondisi psikososial
Yang bahasa kerennya disebut "stress"
Kondisi emosional mereka sedikit terganggu

Tak ada yang mau mengalah
Mungkin akan berhenti jika mereka alami celaka
Atau mereka tersangkut kasus
Kasus orang lain celaka karena mereka
Na'udzubillah.....

Miris rasa hati ini menjadi saksi
Gambaran kecil bangsa ini
Yang menjadikan pedoman hidup
"Peraturan dibuat untuk dilanggar"

Huh...
Apalagi yang akan kusaksikan nanti

Read More..