Mencoba menyelam kembali

Terkadang...
Apa yang diniatkan dalam hati
Tak sepenuhnya terjadi
Entah itu karena diri ini
Atau karena hal lain mempengaruhi

Padahal....
Semua kendali ada pada hati
Yang kemudian disampaikan pada tangan kaki
Melalui otak kanan kiri
Bertumpu pada aliran nadi

Semua yang terjadi akhirnya
Menjadi bagian dari suatu rangkaian
Suatu rantai yang terus berjalan
Namun tetap bergantung diujung hati
Apa yang selanjutnya nanti
Harusnya memang dibawah kendali
Walau tak sadar diri ini melampaui

Namun....
Ternyata tak semudah menatap nadi
Kendali selalu diluar hasil yang pasti
Beruntung tidaknya nanti
Siapa yang dapat mebgerti

Semua kadang memandang
Dengan mata tertutup sebelah saja
Kemudian mengucap
Apa yang sama dengan pikirannya
Tanpa tahu langkah sebenarnya
Tanpa tahu apa faktanya
Tanpa tahu bagaimana terjadinya
Ataupun apa prosesnya

Itulah manusia
Memandang bukan pada proses
Langkah, cara, ataupun yang dilewati
Namun hanya ada pada akhirnya
Hasil apa yang ditunjukkan

Tuhanku beda
Allah tak mengajarkanku hal itu
Terpenting adalah langkahnya
Proses ataupun cara menyelesaikannya
Hingga hasil tak begitu penting
Karena jika prosesnya salah
Maka diakhir pun akan mengikuti

Read More..

Dibalik dinding...Siapa yang tahu?

                                 04-10-2012
Keringat yang telah bercucuran
Pusing yang melekat tajam
Hingga sakit perut yang meremas
Selama sekian hari ini
Seperti tidak ternilai lagi

Dibanding dengan yang awalnya biasa
Berubah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan
Selembar piagam dan sebatang trophy
Menjadi pengikat agar lanjut hingga akhir

Walau dukungan tak seberapa
Walau kata hanya tinggal kata
Dan sakit hati tak terobati
Ditambah lagi menjadi korban
Korban keEgoisan seorang
Yang merasa telah berhasil memimpin
Dan ujungnya memberikan jalan yang salah

Hati hanya tibggal berdoa
Dan berharap banyak

Read More..

Benci dalam langkah yang telah gerah

                                    03-10-2012
Aku berangkat lebih awal dari biasa
Berjalan menuju halte
Naik bus sebagai penumpang ke-dua
Menikmati buruknya udara di pagi yang kelam
Memandang wajah-wajah pelerja keras
Bahkan hingga pekerja teladan
Masuk tepat pulang tepat
Ada pula pekerja yang konsisten
Masuk awal pulang awal
Atau pulang terlambat masuk pun juga

Sambil menahan kantuk
Menuruni tangga bus pun sempoyongan
Berjalan berkilo-kilometer
Hingga keringat menggambar peta dipundak
Menyantap nasi pun terasa nikmat
Walau kantong sedikit tipis

Pulang pun jua demikian
Berjalan ratusan meter
Hingga pakaian kuyup oleh derasnya hujan keringat
Menahan sedikit lapar yang melilit pikiran
Hingga bus datang membawa gerah dalam ruangnya
Terkantuk-kantuk sambil menahan kaki tetap berdiri
Hingga akhirnya turun pun masih lanjut langkah panjang
Dengan sedikit goyang kepala
Menatap jalan pun tak genap

Hingga di atas dipan
Terasa nikmat walau sekejap mata

Berfikir sedikit
Tak ingin berharap
Namun hati masih terasa sakit jika teringat
Sungguh.......
Sebagai arca yang berharga
Yang dapat mengungatkan
Kelak jika menjadi pemimpin
Jangan lupa jika kau pernah membencinya

Read More..

Antara mau dan keterpaksaan

                       02-10-2012
Lelah...
Ketika pikiran mulai naik
Bergerak tanpa ada jeda yang baik
Mengalir tanpa ada arus balik

Ingin melawan
Namun ada rasa keterikatan
Ingin pergi
Namun tanggung jawab belum terselesaikan
Ingin menghindar namun percuma

Berdiri dibawah pemimpin
Yang tak ingin tau keadaan
Tak ingin mengerti kerja sama
Dan seakan najis dengan saran sebenarnya

Lelah....
Namun tak dapat pergi begitu saja
Letih....
Namun tak mungkin dapat nengelak

Read More..

Menanjak menuju puncak

                                  01-10-2012
Kata orang....
Untuk mencapai puncak gunung
Ada biaya yang harus dibayar
Ibarat barter dalam dagangan
Puncak dibayar dengan tenaga
Dibayar oleh keringat seribu jagung
Ditempuh oleh nafas yang kekar
Dilalui oleh langkah penuh harapan
Diterima dengan rasa sejuta rupa

Kata orang.....
Mencapai derajad manusia dunia
Tak bisa jika hanya duduk menerima
Hanya menjalankan rutinitasnya saja
Dan pulang sebelum jam lima

Kata orang.......
Mencapai derajad tinggi akhirat
Tak bisa hanya berdiri seraya meratap
Tak bisa hanya dengan kebiasaan
Bangun pun harus sebelum semut berkelana

Memang semua itu
Tak semudah meludah dijalan basah
Tak seringan mengangkat angan
Tak seperti mengedipkan mata

Kadang..
Semua harus dibayar oleh pengorbanan
Harta, waktu, jarak, rasa, serta jiwa
Dan semua itu terkadang belum cukup
Untuk mendapat apa yang diingini
Untuk mendapat apa yang jadi tragedi
Dalam hidup ini
Dalam dunia ini
Bersama nafas yang mulai iri
Dengan udara yang lepas kesana sini

Read More..

Mengenang Gelapnya Hati

                                             30-09-2012
Mencoba mengenang..
Masa dimana aku terpuruk
Oleh langkah tanpa rekayasa
Oleh keinginan tanpa ada asa
Oleh semangat tanpa ada bara

Semua tampak tak karuan
Bertahan namun jatuh jua
Menahan namun tak tertahan
Hingga diujung sia-sia belaka
Bagai berjalan tanpa mata
Tanpa kaki dan hati yang terbuka

Berkali-kali terperosok
Kedalam jurang yang itu-itu jua
Seperti seekor keledai
Yang terjatuh hingga mati
Hanya karena kotoran yang sama
Berkali-kali masuk kehidungnya

Hati ini sadar sesungguhnya
Namun entah karena apa
Hasilnya tetap terulang juga
Tanpa ada perbaikan yang nyata
Hingga hati terkikis oleh hitam
Yang pekat kelam dan menakutkan
Jiwa pun turut redup
Dengan cahaya gelap yang merenggut
Raga mulai ikut terpuruk
Dengan laku nya yang semakin buruk

Jalan masih jauh panjang dihadapan
Cahaya masih luas terbentang
Langit masih tak enggan menaungi
Udara pun tak letih menyelimuti
Hingga samudera tak ingin ditinggal mati

Masihkah harapan panjang seperti jalan ini
Masihkah keinginan terbentang seperti cahaya ini
Masihkah semangat tak enggan selalu menemani
Masihkah kebenaran masih dapat menyelimuti
Masihkah kabaikan tak dapat ditinggal oleh hati

Read More..

Lamunan siang yang tak terang

                                          28-09-2012
Gema sang awan membawaku pergi
Pergi menyusuri jalan kota ini
Sendiri mencoba memandang hati
Yang tampak tak pernah letih
Walau teriknya sang siang membunuh benih
Melumat daratan tanpa rasa kasih Menghujamkan panas yang menyengat baju ari

Aku terduduk sesaat
Dibawah pohon sedikit rindang
Di depan mall yang belum mulai bernafas
Kulihat....
Banyak orang mulai berdatangan,,,
Dari yang akan mencari nafkah didalam gedung itu
Maupun yang mengais rezeki di emperan
Banyak air muka kulihat
Masam.....sampai manis melekat
Senyum yang terpasang apa adanya
Hingga kerutan dahi ada apanya
Ada yang tertawa lepas..
Tersenyum dikulum
Ceria dalam kesedihan
Bahkan menangis ditengah keramaian
Ada pula yang menunggu
Menanti yang tak kunjung tampak
Hingga tertegun dalam bersama lamunannya

Sesaat aku melihat seorang ibu paruh baya
Mulai menata barang dagangannya
Dibantu sang suami yang sedikit tegap tentunya
Dihalaman yang tak pernah ramah

Teringat aku dengan umi ku
Dikala dulu berjuang
tak pernah henti berdagang
Ini itu tak menentu
Demi sekolah 3anak yang sedikit tak tau malu
Berhutang sana sini dengan raut letih dan lesu
Berjalan sana sini pun hingga layu
Berangkat setelah shubuh
Ditemani anak anak serta suami
Mencoba membantu menggalikan rizqi
Ditengah kejamnya kota yang tak tahu santun

Kini...... aku disini Jadi seperti ini Dengan semua tetesan keringat
Dan air mata mereka yang telah membimbingku Menyayangi......hingga akhir masa..
Ku pikir..semua orang disini pun sama
Untuk apa langkah itu dilalui
Walau harus memeras nafas
Yang hanya tersisa secangkir gelas

Read More..

Diantara Keyakinan dan Kekhawatiran

                                          12-09-2012

Sedetik......
Terasa bagaikan telah bertahun-tahun mencapainya
Bagai melampaui jalanan panjang
Berlubang dan dipinggiran jurang yang tajam

Semenit......
Bagaikan hampir seabad didepan
Terasa seperti memanjat tebing yang tinggi menjulang
Menembus langit menembus matahari yang terang

Sehari.........
Seminggu...
Sebulan.......
Setahun.......

Entah bagaimana akan berlalu
Kadang terasa sedikit berat dengan hal itu

Harus menerima yang tak ingin diterima
Harus memberikan yang tak ingin dilakukan
Harus berpura-pura setuju dengan apa yang telah ada
Harus bersandiwara dengan semua kebiasaannya

Berat memang jika dirasakan
Ibarat memikul logam sebesar bumi yang perkasa

Mencoba bertahan beberapa saat
Menunggu waktu yang sesuai untuk mengambil langkah

Kadang..
Kecewa itu masih lebih baik
Dibanding dengan riang namun ditepi jurang
Read More..